JAGABERITA.ID – Tim penyelamat di Nepal mengerahkan drone untuk mencari ratusan pekerja yang diduga terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) setelah banjir bandang menerjang wilayah tersebut. Namun, proses pencarian menghadapi kendala berat karena sejumlah terowongan dipenuhi lumpur dan puing-puing sehingga hampir tidak menyisakan ruang kosong.
Pilot drone sekaligus pembuat film, Manish Maharjan, menjadi salah satu orang yang terlibat dalam operasi pencarian bersama Angkatan Darat Nepal sejak sehari setelah banjir bandang terjadi pada 26 Agustus 2026. Bencana tersebut telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang meninggal dunia, sementara ribuan lainnya dilaporkan hilang di Nepal dan Tibet, dikutip dari AP News pada Selasa (1/9/2026).
Dalam sejumlah operasi sebelumnya, Maharjan menggunakan drone yang dilengkapi pengeras suara untuk mencari korban yang terjebak di kawasan lereng bukit.
Tim penyelamat memanggil korban melalui pengeras suara tersebut, bahkan sesekali memutar musik untuk mengetahui apakah ada respons dari orang yang masih bertahan hidup. “Kami menggunakan pengeras suara untuk memanggil mereka. Di beberapa tempat, kami bahkan memutarkan lagu lalu menunggu respons. Cara itu berhasil dalam beberapa kasus dan membantu kami menemukan lokasi para korban,” kata Maharjan.
Terowongan dipenuhi lumpur Situasi berbeda ditemukan ketika pencarian difokuskan pada terowongan-terowongan PLTA. Menurut Maharjan, kondisi di dalam terowongan membuat penggunaan drone jauh lebih sulit dibandingkan pencarian di area terbuka. “Kami mendapati terowongan-terowongan itu penuh dengan lumpur, seperti pasta gigi di dalam kemasannya. Tidak ada rongga atau ruang kosong di dalamnya,” kata Maharjan.
Banjir bandang tersebut dipicu oleh runtuhnya gletser di kawasan Himalaya. Arus air yang sangat deras kemudian menerjang berbagai wilayah dan merusak sejumlah infrastruktur penting, mulai dari jalan, bangunan, jembatan, hingga fasilitas pembangkit listrik tenaga air. Sedikitnya 900 pekerja dari 12 proyek PLTA hingga kini masih dilaporkan hilang setelah kawasan proyek tertimbun lumpur dan puing-puing.
Sekitar 500 orang di antaranya diduga berada di dalam terowongan pembangkit ketika banjir menerjang.
Ketua Independent Power Producers’ Association, Mohan Kumar Dangi, mengatakan sejumlah pekerja yang berada di dalam terowongan sempat meminta pertolongan ketika bencana terjadi.
Belum diketahui apakah tim penyelamat kembali berhasil berkomunikasi dengan mereka setelah panggilan bantuan tersebut.
Belum diketahui apakah tim penyelamat kembali berhasil berkomunikasi dengan mereka setelah panggilan bantuan tersebut. Sampai saata ini, meski tim penyelamat memakai drone dilengkapi sensor termal deteksi panas tubuh namun belum ditemukan korban di dalam terowongan PLTA. (kompas*)












