JAGABERITA.ID – Akibat musim kemarau panjang membuat sebanyak 2.655 hektare lahan sawah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terancam gagal panen atau puso. Kondisi kekeringan tersebut semakin mengkhawatirkan karena debit air Sungai Silugonggo, yang menjadi sumber pengairan pertanian ikut menyusut.
Kepala Dispertan Kabupaten Pati, Ratri Wijayantoi menyebut, ada sekitar 2.655 hektar lahan pertanian padi dari 3.057 lahan yang saat ini terancam gagal panen akibat kekeringan.
Berdasarkan data Dispertan Pati, lahan pertanian yang terancam puso tersebar di lima kecamatan. Kecamatan Gabus menjadi wilayah paling terdampak dengan 764 hektare sawah, terutama lahan yang berada di sekitar bantaran Sungai Silugonggo. Selanjutnya, Kecamatan Pati dengan 706 hektare, Margorejo 469 hektare, Jakenan 442 hektare, dan Kayen sebanyak 210 hektare sawah.
Ancaman tersebut menjadi semakin serius karena sebagian tanaman padi masih berada pada usia muda dan membutuhkan pasokan air secara rutin. “Pemkab Pati kini berupaya mencari solusi agar kekeringan tidak semakin meluas dan tanaman petani masih bisa diselamatkan. Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah adalah mengupayakan penambahan pasokan air ke Sungai Silugonggo,”ujar Ratri, Selasa (1/9/2026).
Harapannya, debit air sungai dapat kembali meningkat sehingga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian.
Ratri juga menjelaskan, bahwa Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, telah melayangkan surat kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. “Surat tersebut berisi permohonan agar dilakukan penggelontoran air ke Sungai Silugonggo sebagai langkah antisipasi menyusul terus menurunnya debit sungai,”imbuh Ratri.
Potensi gagal panen pastinya ada. Namun Pak Plt Bupati Pati masih berupaya bersurat ke BBWS Pemali Juana sebagai bentuk upaya penggelontoran di Sungai Silugonggo agar airnya nanti bisa dimanfaatkan untuk pertanian,” ungkapnya.
Pemkab Pati juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi lahan pertanian dan ketersediaan sumber air di sejumlah wilayah.
Sugiyono (77), petani asal Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan mengaku kondisi kekeringan sangat mengkhawatirkan karena sebagian besar petani di wilayahnya baru memasuki masa tanam. (kompas*)












