JAGABERITA.ID – Walikota Semarang, Aagustina Wilujeng mengaku sejumlah petugas Sensus Ekonomi dari Badan Pusat Statistik (BPS) di Kota Semarang memilih mengundurkan diri. Sebab, mereka mengaku keberatan dengan beban pekerjaan selama pelaksanaan sensus.
Hal itu diungkapkan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti seusai rapat dengan BPS Kota Semarang di Balai Kota Semarang.
“Memang ada petugas-petugas dari BPS itu ketika terjun ke masyarakat ternyata mengundurkan diri, resign. Merasa bahwa ini terlalu berat, tidak seperti yang dibayangkan dan lain-lain,” ujar Agustina, Rabu (15/7).
Meski demikian, Agustina menyatakan penyensusan tetap terus berjalan. “Ada proses penggantian petugas secara cepat di 18 Juli. Ya mudah-mudahan kita harus dukung sensus ekonomi ini karena menjadi bagian yang mendasar untuk pengambilan keputusan, tidak hanya pemerintah ini,” katanya.
Selain para penyensus yang menyerah, Agustina menyebut masih ada kendala lain yang terjadi di Kota Semarang. Tentunya yang juga menjadi perhatiannya, yakni kekhawatiran warga akan penyalahgunaan data pribadi yang dihubungkan dengan pajak.
Agustina menjelaskan bahwa petugas pajak dari Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Semarang hanya bertugas mendata untuk pembaharuan data. Hal itu, menurutnya, tidak ada kaitan dengan sensus ekonomi yang akan berakhir 31 Agustus 2026 mendatang itu.
“Nomor satu, orang merasa bahwa ini (sensus ekonomi, red) BPS kemudian (didatangi petugas, red) pajak, itu tidak benar, ya. Itu dua-duanya adalah hal proses pencarian data untuk kebaikan. Kemudian adanya jaminan dari petugas BPS bahwa datanya ini secret (rahasia, red),” kata Agustina.
Termasuk soal kesulitan petugas sensus mengakses perumahan elit dan kawasan industri. “Ini akan dibantu oleh teman-teman di wilayah. Memang kendalanya ada beberapa kecamatan yang petugas koordinator kecamatannya belum koordinasi dengan Camat. Ini akan dihubungkan,” katanya.
Menurut Agustina, sensus ekonomi yang dilakukan 10 tahun sekali ini sangat penting dalam pengambilan keputusan oleh pemerintah dari segala sudut terkait ekonomi Indonesia.
“Data sensus ekonomi akan digunakan untuk proses pengambilan kebijakan di banyak hal yang berhubungan dengan ekonomi,” kata Agustina.
Agustina mengatakan pengambilan data oleh petugas sensus akan disimpan secara rahasia. Data bisa diubah ketika dalam verifikasi terdapat kekeliruan salah ketik atau hal lainnya. Menurutnya, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan data pribadi miliknya akan disalahgunakan.
“Maka masyarakat tidak perlu takut untuk memberikan data guna sensus ini dan sensus ini tidak berkaitan dengan apa pun,” katanya.
Sementara itu, Kepala BPS Kota Semarang, Rudi Cahyono mengatakan proses perekrutan petugas sensus baru akan dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku.
“Iya, tentunya harus melewati mekanisme untuk rekrutmen lagi,” kata Rudi.
Rudi menyatakan bahwa pengunduran diri sejumlah penyensus itu tidak berpengaruh pada sensus ekonomi di Kota Semarang yang baru 38 persen.
“Tidak. Maksudnya kalau di Kota Semarang sebenarnya kan itu on the track karena memang kan Kota Semarang ini kalau dari sisi masyarakatnya heterogen,” ujarnya.
Hanya saja, dalam prosesnya di lapangan, menurutnya, ada perbedaan pendekatan yang dilakukan petugas sensus terhadap masyarakat urban dan perdesaan.
“Dari sisi akses untuk masuk ibaratnya di perdesaan dengan perkotaan itu kan berbeda. Jadi memang butuh pendekatan yang berbeda juga,” ujarnya. (yuli)












