JAGABERITA.ID – Universitas Gadjah Mada (UGM) berupaya memanfaatkan rumah Prof Sardjito untuk kegiatan akademik dan sosial. Prof. Sardjito dikenal sebagai pahlawan nasional sekaligus rektor pertama UGM. Rumah peninggalannya yang berada di Jalan Cik Di Tiro No.16 Terban, Kota Yogyakarta beberapa waktu lalu diiklankan untuk dijual. Rumah tersebut juga telah ditawarkan ke pihak UGM.
Rektor UGM, Ova Emilia mengatakan, bahwa UGM tengah berupaya untuk memanfaatkan rumah tersebut untuk kegiatan akademik dan sosial sehingga mampu merekognisi nilai sejarah atas rumah itu. Upaya-upaya tersebut sedang dilakukan dengan menggandeng KAGAMA,” ujarnya, Selasa (19/05/2026).
Ia menyampaikan, UGM memahami adanya perhatian publik terkait rumah Prof. Sardjito yang dikabarkan dijual.
“Perlu kami sampaikan bahwa rumah tersebut merupakan milik pribadi keluarga, sehingga terkait kepemilikan maupun keputusan atas rumah tersebut sepenuhnya menjadi ranah keluarga dan bukan kewenangan universitas,” ungkapnya.
UGM menghormati keputusan keluarga dan nilai sejarah serta jasa para pendiri yang telah berkontribusi bagi perjalanan institusi.
Rumah yang Mengandung Sejarah Diberitakan sebelumnya, rumah tersebut memiliki luas lahan sekitar seribu meter persegi dengan luas bangunan sekitar delapan ratus meter persegi. Lokasinya tak jauh dari UGM. Rumah ini kental dengan nuansa lawas. Memiliki atap berbentuk segitiga. Lantainya menggunakan ubin berwarna merah. Mengkilap.
Budhi Santoso, pengurus sekaligus penjaga rumah tersebut mengatakan, rumah ini tak sekadar rumah klasik. Tetapi juga menyimpan cerita-cerita masa lalu dan sejarah.
Dulu, rumah tersebut pernah digunakan diskusi kebangsaan oleh tokoh-tokoh politik nasional. Selain itu, juga menjadi tempat pelestarian jamu atau obat peluruh batu urine. Ditawarkan Kepada 10 Orang Terkait dengan rencana menjual rumah tersebut, Ia mengaku sudah menawarkan rumah kepada berbagai pihak. “Rektor UGM sudah kesini,” katanya, saat ditemui Rabu, (13/5/2026).
Selain ditawarkan kepada UGM, ia juga menawarkan rumah bersejarah ini kepada berbagai tokoh, salah satunya Mantan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto.
“Saya sudah tawarkan ke 10 orang, mudah-mudahan waktu dekat yang membeli orang terbaik,” kata dia.
Soal harga, Budhi enggan membeberkannya kepada awak media lantaran hal itu merupakan privasi dari ahli waris.
Ia berharap, rumah ini dapat dibeli oleh UGM atau Universitas Islam Indonesia (UII). Sebab rumah ini memiliki nilai sejarah dan berkaitan dengan kedua institusi pendidikan tersebut.
Jika UGM membeli rumah ini, dia berharap, bisa difungsikan kembali menjadi rumah dinas rektor, difungsikan sebagai museum, atau dijadikan rumah pelayanan masyarakat seperti puskesmas. “Itu kan masih selaras dengan semangatnya dr. Sardjito,” katanya. (kompas*)












