BeritaEkonomiPeristiwa

Dikritik Soal Usulan Pindahkan Gerbong KRL Khusus Perempuan, Menteri PPPA Buka Suara

15
×

Dikritik Soal Usulan Pindahkan Gerbong KRL Khusus Perempuan, Menteri PPPA Buka Suara

Sebarkan artikel ini

JAGABERITA.ID – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mendadak menuai polemik soal usulannya yang meminta gerbong KRL khusus perempuan dipindah ke tengah sebagai upaya pengabaian keselamatan penumpang lain.

“Tidak ada maksud dari saya untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya,” tambah Arifah melalui tayangan video sosial media Kementerian PPPA, Rabu (29/4/2026).

Hal ini disampaikan Arifah soal pernyataannya yang mengusulkan agar gerbong KRL khusus wanita dipindah ke tengah setelah tragedi tabrakan KRL Commuter dan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur, Senin ( 27/4/2026).

Ia menegaskan, semua orang sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas utama dalam sebuah kebijakan, baik perempuan maupun laki-laki.

Arifah juga secara langsung meminta maaf kepada seluruh masyarakat dan para korban dan keluarga korban atas usulan tersebut.

“Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini yang menjadi fokus utama adalah keselamatan penanganan korban serta empati kepada seluruh keluarga yang terdampak,” terangnya.

Arifah mengatakan, saat ini prioritas utama pemerintah adalah memastikan penanganan terbaik bagi seluruh korban baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka.

Kementerian PPPA dalam hal ini hadir untuk memastikan hak korban dan anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya dalam tragedi tabrakan kereta tidak terabaikan. “Kementerian PPPA berkomitmen memberikan pendampingan psikologis perlindungan serta dukungan yang diperlukan khususnya bagi anak-anak dan keluarga korban yang mengalami trauma akibat peristiwa ini,” imbuhnya.

Ia mengajak kepada seluruh pihak untuk memusatkan perhatian kepada penanganan korban dan perbaikan sistem keselamatan transportasi publik agar tragedi serupa tak terjadi.

Sebelumnya, Arifah mengusulkan agar gerbong khusus perempuan dipindah ke tengah rangkaian kereta. Usulan itu muncul setelah insiden kecelakaan KRL Commuter dan KA Argo Bromo menimbulkan korban jiwa, termasuk penumpang di gerbong KRL khusus perempuan yang selama ini berada di bagian ujung kereta.

Jadi yang laki-laki di ujung. Yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” ujar Arifah di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Menurut Arifah, posisi gerbong di bagian depan dan belakang memiliki risiko lebih tinggi saat terjadi tabrakan. Meski demikian, ia menegaskan usulan tersebut masih bersifat awal dan belum dibahas lebih lanjut. (kompas*)