BeritaDaerahParlemenPendidikan

Sidak ke Sekolah Rakyat di Rowosari, Mualim Sebut Upaya Pemerintah Berikan Akses Pendidikan Formal Berkualitas

12
×

Sidak ke Sekolah Rakyat di Rowosari, Mualim Sebut Upaya Pemerintah Berikan Akses Pendidikan Formal Berkualitas

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang bersama anggota meninjau fasilitas dan ruang belajar siswa sekolah rakyat terintegrasi di Rowosari, Tembalang.
Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang bersama anggota meninjau fasilitas dan ruang belajar siswa sekolah rakyat terintegrasi di Rowosari, Tembalang.

JAGABERITA.ID – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang memberikan apresiasi terhadap keberadaan Sekolah Rakyat Rowosari (Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Semarang). Hal ini disampaikan Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Mualim saat kunjungan kerja langsung ke lokasi sekolah, Kamis (16/7/2026).

Menurut Mualim, lembaga pendidikan terobosan ini menjadi pilar strategis dalam upaya pemenuhan hak pendidikan sekaligus mengentaskan angka buta huruf. Khususnya bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu di wilayah Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang.

“Kami menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Utamanya atas inisiasi penyediaan fasilitas sekolah rakyat tersebut,”paparnya.

Program ini, dia menilai menjadi wujud nyata kehadiran negara bagi kelompok rentan. Mereka adalah masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan formal berkualitas.

Mualim menegaskan bahwa kehadiran Sekolah Rakyat Rowosari memberikan angin segar bagi warga yang memiliki keterbatasan ekonomi dari keluarga pra sejahtera.

“Melalui kebijakan ini, anak-anak kurang mampu mendapatkan jaminan pendidikan penuh. Mereka adalah anak yang gagal masuk negeri atau terhambat biaya swasta. Jaminan ini mencakup jenjang pendidikan dasar hingga tingkat menengah atas,”ujarnya.

Negara tidak hanya membebaskan seluruh biaya pendidikan dasar siswa di lembaga ini. “Negara tidak hanya membebaskan seluruh biaya pendidikan dasar siswa di lembaga ini.

Lebih jauh lagi, pemerintah juga menanggung kebutuhan pangan harian mereka. Pemerintah pun menyediakan akomodasi asrama yang sangat representatif. Mereka bahkan merancang penyaluran kerja setelah para siswa lulus nanti,”bebernya.

Dalam peninjauan langsung tersebut, rombongan DPRD Kota Semarang melihat aktivitas harian siswa. Mereka sempat mengamati momen makan bersama. Aktivitas tersebut mampu membangun rasa kebersamaan yang kuat.

Mualim sangat mengagumi kualitas sarana fisik yang tersedia di sana. Kekaguman ini meliputi ruang kelas yang nyaman hingga fasilitas balai asuh yang rapi.

Kendati capaian fisik sekolah sesuai target, Komisi D DPRD Kota Semarang tetap memberikan beberapa catatan evaluasi penting demi kemajuan kualitas pembelajaran di masa mendatang.

Salah satu poin sorotan adalah digitalisasi ruang kelas untuk menunjang efektivitas transfer ilmu pengetahuan. Mualim menyarankan pelengkapan segera ruang kelas dengan fasilitas infokus atau proyektor digital untuk mempermudah metode belajar mengajar modern.

Pihaknya berjanji akan mengkaji regulasi yang tepat agar Pemerintah Kota Semarang dapat turut memberikan bantuan intervensi anggaran, meskipun koordinasi utama institusi ini berada di bawah naungan pemerintah pusat.

Tantangan lain yang perlu segera penanganan oleh pihak manajemen sekolah adalah pemenuhan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) pendidik dan pembina asrama.

Saat ini, total kapasitas siswa yang tertampung pada tahun ajaran baru 2026/2027 mencapai 270 anak, dengan rincian masing-masing 90 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Jumlah tersebut juga ditambah dengan kuota angkatan sebelumnya yang mencakup 50 siswa SD dan 50 siswa SMA.

Dengan jumlah total ratusan murid tersebut, keberadaan tenaga pengajar yang saat ini baru berjumlah sekitar 20 orang dirasa memerlukan penambahan yang proporsional.

Merespons kondisi ini, Kepala Sekolah Rakyat Rowosari, Ridho Irwanto, menjelaskan bahwa operasional institusi memang masih berada dalam tahap penyesuaian menuju kondisi ideal.

Ridho mengakui adanya kekurangan guru untuk beberapa mata pelajaran spesifik, seperti guru pendidikan agama serta tambahan pendidik untuk jenjang SD.

Kendati demikian, sinergi tenaga pendidik yang ada saat ini masih dapat menjangkau seluruh kelas, dan pihak sekolah mengharapkan penempatan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) dalam waktu dekat dapat menjadi solusi cepat.

Catatan kritis yang tidak kalah penting dari aspek akademis adalah penanganan kondisi psikologis siswa. Mengingat mayoritas murid berlatar belakang anak yatim, piatu, atau dari keluarga sangat miskin, proses adaptasi di lingkungan asrama baru sering memicu fenomena kerinduan rumah (homesick) yang cukup mendalam.

Mualim menceritakan pengalaman emosionalnya saat melihat seorang siswa menangis haru ketika jam makan tiba karena teringat kondisi keluarganya di rumah.

“Oleh karena itu, Komisi D DPRD Kota Semarang mendorong penyediaan tenaga psikolog profesional di sekolah untuk mendampingi kesehatan mental anak-anak secara berkala,”ungkapnya .

Pihak DPRD Kota Semarang pun mendesak kepala sekolah untuk segera memperkuat koordinasi dengan lintas kementerian, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, serta Walikota Semarang.

Langkah cepat ini dinilai sangat krusial bagi kemajuan sekolah. Tujuannya agar seluruh fasilitas pendukung kemanusiaan dapat rampung secara menyeluruh. Dengan begitu, hak pendidikan inklusif dan adil bisa dirasakan semua lapisan masyarakat. (yuli)