JAGABERITA.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) menangguhkan atau suspend operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2, Duren Sawit, Jakarta Timur, yang menyebabkan sebanyak 72 siswa diduga keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan selain kasus itu, BGN juga menemukan bahwa SPPG tersebut belum memenuhi standar operasional prosedur yang ditetapkan BGN.
“Selain itu, SPPG Pondok Kelapa kami suspend (hentikan sementara) untuk waktu yang tidak terbatas, karena kondisi dapur, termasuk tata letak dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang masih belum memenuhi standar,” ujar dia, Sabtu (4/4/2026).
Nanik menegaskan, BGN juga menanggung biaya pengobatan seluruh siswa yang kini telah diarahkan ke Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. BGN juga akan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan di rumah sakit,” ucap Nanik.
Nanik menegaskan, BGN juga menanggung biaya pengobatan seluruh siswa yang kini telah diarahkan ke Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat meninjau langsung ke RSKD Duren Sawit menyatakan terkait pembiayaan, bagi yang sudah terdaftar BPJS Kesehatan maka sepenuhnya akan dibantu hingga pulih.
Penanganan secara cepat telah dilakukan dengan koordinasi antara BGN dan Pemerintah Provinsi DKI beserta jajaran.
“Jadi, penanganan dan koordinasi berjalan cepat antara BGN, Pemerintah DKI Jakarta dan juga dengan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan tentunya beberapa rumah sakit terkait,” paparnya.
Kini, Pemerintah Provinsi DKI tengah menunggu hasil laboratorium dari pemeriksaan MBG dan meminta pihak terkait untuk bertanggung jawab secara terbuka.
Diharapkan para korban siswa maupun guru bisa segera pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Sedangkan Pemerintah Kota Jakarta Timur (Pemkot Jaktim) terus memprioritaskan kondisi kesehatan siswa dan memastikan mereka mendapatkan penanganan yang tepat.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Timur, M. Fahmi mengatakan pihaknya tidak punya kewenangan menyimpulkan hal itu apakah keracunan atau bukan. “Yang jelas kami fokus kepada keselamatan anak-anak, terutama terkait kesehatannya,” jelasnya.
Pihaknya telah menggelar rapat bersama sejumlah pemangku kepentingan, termasuk dari sektor kesehatan dan pihak terkait program MBG.
“Terkait penyebab kejadian tidak dapat disampaikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium resmi keluar, ” kata Fahmi (ant*)












