BeritaDaerahEkonomiPeristiwa

Kasus Penipuan Simpanan BLN: Korban dari Dokter, sampai Guru Setor Ratusan Juta, Bukan Untung Malah Buntung

2
×

Kasus Penipuan Simpanan BLN: Korban dari Dokter, sampai Guru Setor Ratusan Juta, Bukan Untung Malah Buntung

Sebarkan artikel ini

JAGABERITA.ID – Bukan untung malam buntung. Kisah apes ini dialami para korban dugaan skema ponzi koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) dengan perputaran dana mencapai Rp 4,6 triliun.

BLN ini menghimpun dana masyarakat dengan tokoh utama Nicholas Nyoto Prasetyo (54), warga Kota Salatiga selaku Ketua Koperasi BLN periode 2018–2025, serta seorang perempuan berinisial D (55), kepala cabang BLN Salatiga.

Keduanya menjadi aktor dalam penghimpunan dana masyarakat melalui berbagai program simpanan dengan janji keuntungan tinggi yang belakangan diduga menggunakan pola “gali lubang tutup lubang” atau skema ponzi.

Tercatat, total korban diperkirakan mencapai 41 ribu orang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Sementara total transaksi yang tercatat mencapai sekitar 160 ribu kali transaksi sejak 2018 hingga 2025, dengan perputaran uang mencapai Rp 4,6 triliun.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Djoko Julianto, sebelumnya menyatakan peluang munculnya tersangka baru masih terbuka karena penyidik terus mendalami jaringan BLN yang memiliki 17 cabang di Jawa Tengah.

Penyidik juga masih memburu aset-aset yang diduga berasal dari hasil kejahatan.

Sejauh ini, polisi telah meminta pemblokiran terhadap 132 rekening yang terkait tersangka, keluarga tersangka hingga perusahaan terafiliasi.

Kasus itu diperkirakan menyeret sekitar 41 ribu korban di berbagai daerah dengan total perputaran dana mencapai Rp 4,6 triliun. Polda Jateng juga masih membuka posko pengaduan bagi para korban BLN.

Kuasa hukum yang menangani sebagian korban BLN, Zainal Abidin Petir, mengungkap sembilan orang kliennya merupakan kalangan pekerja biasa yang berharap mendapatkan penghasilan tambahan untuk masa tua.

Namun, harapan itu justru berubah menjadi beban utang berkepanjangan.

“Sekarang saya mendampingi sembilan korban, total kerugiannya sekitar Rp 2 miliar,” ujar Zainal Petir, Jumat (22/5/2026) sore.

Menurut dia, para korban berasal dari berbagai profesi, mulai dokter, perawat hingga guru.

Satu di antara korban berinisial R, seorang dokter di Salatiga, disebut menyetor dana hingga Rp 550 juta ke program investasi BLN.

“Yang dokter, rumahnya dekat dengan Nicholas. Dia memasukkan uang Rp 550 juta,” kata dia.

Tak hanya itu, seorang perawat disebut ikut menyetorkan dana ratusan juta rupiah karena percaya investasi tersebut dapat menjadi bekal pensiun. Namun mereka justru ditipu.

Demi ikut program itu, korban bahkan nekat menggadaikan surat keputusan (SK) pegawai dan aset lainnya.

Menurut Zainal, korban tertarik karena dijanjikan keuntungan sekitar empat persen setiap bulan.

Dengan skema itu, dana ratusan juta rupiah disebut bisa menghasilkan jutaan rupiah per bulan tanpa perlu bekerja lagi.

“Kalau Rp 500 juta, per bulan bisa ditarik sudah di atas Rp 5 juta per bulan. Akhirnya dari awal uangnya dimasukkan semua,” ungkap dia. (tribunjateng*)