BeritaDaerahEkonomiPeristiwa

Dampak Cuaca Ekstrem di Selat Bali, Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Buka Tutup

2
×

Dampak Cuaca Ekstrem di Selat Bali, Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Buka Tutup

Sebarkan artikel ini
Kondisi penyeberangan Ketapang-Gilimanuk
Kondisi penyeberangan Ketapang-Gilimanuk

JAGABERITA.ID – Operasional penyeberangan lintas Ketapang-Gilimanuk masih dilakukan buka tutup menyusul cuaca ekstrem yang masih terjadi di perairan Selat Bali. Perubahan kecepatan angin dan tinggi gelombang yang berlangsung dinamis membuat layanan penyeberangan harus disesuaikan secara situasional demi menjaga keselamatan pelayaran.

Pada Rabu (29/7/2026), operasional penyeberangan sempat dihentikan sementara selama sekitar dua jam sebelum kembali dibuka setelah kondisi cuaca dinilai memenuhi persyaratan keselamatan. Pengaturan serupa juga terjadi di hari sebelumnya.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko Kurniansjah mengatakan, hingga saat ini operasional kapal masih sangat bergantung pada perkembangan cuaca maritim. Karena itu, layanan dapat dibuka maupun ditutup sewaktu-waktu berdasarkan hasil pemantauan di lapangan dan rekomendasi otoritas.

“Keselamatan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap layanan penyeberangan,” kata Arief.

Penyesuaian operasional dilakukan sebagai langkah mitigasi risiko ketika kecepatan angin maupun tinggi gelombang belum memenuhi standar keselamatan pelayaran. “Begitu kondisi membaik dan dinyatakan aman oleh otoritas, layanan akan kembali dioperasikan secara bertahap,” tambahnya.

Meski operasional sempat terhenti, kondisi antrean kendaraan di kedua sisi pelabuhan masih relatif terkendali.

Di Pelabuhan Ketapang, buffer zone Bulusan mulai terisi sehingga kepadatan terlihat di akses menuju pelabuhan, namun belum terjadi antrean panjang di dalam kawasan pelabuhan. Sementara di Pelabuhan Gilimanuk, antrean kendaraan masih berada di area manuver pelabuhan. Untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan apabila cuaca kembali memburuk, ASDP mengoptimalkan buffer zone Bulusan sebagai lokasi penampungan sementara, terutama bagi kendaraan logistik.

Operator penyeberangan juga menyiapkan armada tambahan agar proses penguraian antrean dapat dilakukan lebih cepat setelah pelayaran kembali dibuka.

Arief mengatakan, ASDP terus berkoordinasi dengan BMKG, KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan BPTD Kelas II Jawa Timur, serta kepolisian dalam memantau kondisi cuaca, mengatur operasional kapal, dan mengelola arus kendaraan di sekitar pelabuhan. “Kami terus melakukan langkah antisipatif secara terpadu, mulai dari pemantauan cuaca, pengaturan operasional, optimalisasi buffer zone, kesiapan armada, hingga pengaturan lalu lintas bersama kepolisian. Dengan kolaborasi tersebut, kami berharap dampak penyesuaian operasional dapat diminimalkan tanpa mengesampingkan aspek keselamatan,” terangnya.

Sementara itu, Corporate Secretary PT ASDP Indonesia, Ferry Windy Andale menegaskan, setiap keputusan operasional penyeberangan mengacu pada ketentuan keselamatan pelayaran.

Dalam kondisi cuaca yang dinamis, kapal hanya dapat berlayar setelah memenuhi persyaratan keselamatan dan memperoleh Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dari Syahbandar. Menurut Windy, kepatuhan terhadap regulasi menjadi landasan utama dalam setiap keputusan operasional sehingga risiko dapat diminimalkan sebelum kapal berlayar.

ASDP juga memastikan tiket yang telah dibeli pengguna jasa tetap berlaku dan dapat digunakan kembali setelah kapal memperoleh izin berlayar dan layanan penyeberangan kembali normal. (Kompas*)