BeritaPeristiwa

Belasan Korban Tewas Tertimbun Reruntuhan Dievakuasi Akibat Gempa Jepang M 7,1

36
×

Belasan Korban Tewas Tertimbun Reruntuhan Dievakuasi Akibat Gempa Jepang M 7,1

Sebarkan artikel ini
Kondisi infrastruktur rusak parah usai gempa Jepang
Kondisi infrastruktur rusak parah usai gempa Jepang

JAGABERITA.ID – Sedikitnya 13 orang meninggal usai gempa dahsyat mengguncang wilayah Kyushu, Jepang barat daya bermagnitudo (M) 7,1 pada (Senin 27/7/2026). Selain korban meninggal bertambah, lebih dari 100 gempa susulan telah terjadi sejak Selasa (28/7/2026), sementara puluhan warga lainnya masih dilaporkan mengalami henti jantung.

Salah satu lokasi dengan dampak terparah berada di Prefektur Kumamoto. Tim penyelamat memusatkan pencarian di sebuah pabrik kertas dan pusat perbelanjaan Aeon Mall di Kota Kashima yang mengalami kerusakan hebat setelah ledakan terjadi sesaat usai gempa.

Rekaman di lokasi memperlihatkan asap putih membumbung tinggi ketika pengunjung berlarian menyelamatkan diri ke area parkir, sementara sebagian dinding bangunan runtuh hingga memperlihatkan kerangka besinya.

Presiden Aeon Mall, Akio Yoshida, mengonfirmasi tiga pekerja meninggal dunia akibat ledakan tersebut dan sejumlah korban lainnya dilarikan ke rumah sakit. Hingga kini, tim SAR masih membongkar puing-puing bangunan untuk mencari tiga karyawan yang dilaporkan hilang.

“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas insiden ini,” ujar Yoshida, Rabu (29/7/2026).

Di Kota Yatsushiro, situasi juga tidak kalah memprihatinkan. Sebuah pabrik mengalami kerusakan berat dan dua orang ditemukan tanpa tanda-tanda kehidupan. Sementara itu, sembilan pekerja lainnya masih dinyatakan hilang di bawah reruntuhan. Kondisi ini membuat jumlah korban gempa Jepang dikhawatirkan masih dapat bertambah seiring berlanjutnya proses pencarian.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan bahwa operasi penyelamatan menjadi prioritas utama pemerintah karena masih banyak korban yang belum berhasil dievakuasi.
“Meskipun lebih dari 20 jam telah berlalu sejak gempa bumi terjadi, masih ada orang-orang yang membutuhkan bantuan,” ujar Takaichi. “Sungguh ini adalah perlombaan melawan waktu,” sambungnya.

Untuk mempercepat proses evakuasi, pemerintah Jepang telah mengerahkan lebih dari 4.600 personel gabungan dari unsur militer dan tim penyelamat. Upaya pencarian menghadapi tantangan berat akibat cuaca panas. Suhu udara di sekitar lokasi bencana mencapai 35 derajat celsius sehingga petugas dan para penyintas diminta mewaspadai risiko sengatan panas (heatstroke).

Menteri Pertahanan Jepang, Shinjirō Koizumi, mengatakan pemerintah akan mengirim bantuan pendingin udara ke wilayah terdampak.

“Sekitar 300 unit pendingin udara (AC) akan diterbangkan ke Kumamoto dan didistribusikan ke wilayah-wilayah yang terdampak paling parah,” tulis Koizumi.

Gempa dangkal dengan kedalaman sekitar 10 kilometer itu juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang luas. Sejumlah jalan dan jembatan mengalami retak, aliran listrik ke puluhan ribu rumah terputus, layanan kereta api dihentikan sementara, serta Aula Utama Kuil Yatsushiro yang berdiri sejak abad ke-19 dilaporkan roboh.

Getaran kuat turut dirasakan warga dan wisatawan. Hiroko Ogata, pemilik restoran berusia 75 tahun di Kota Yatsushiro, mengaku gempa kali ini merupakan yang terbesar sepanjang hidupnya.
“Tiba-tiba ada guncangan besar, dan saya sangat terkejut sekaligus takut. Saya telah tinggal di sini selama 75 tahun, tetapi saya belum pernah mengalami gempa sebesar ini. Saya pikir saya akan mati,”ungkapnya.

Sementara itu, wisatawan asal Amerika Serikat, Chantel Mohar, menceritakan kepanikan yang terjadi di dalam bus pariwisata ketika seluruh telepon seluler penumpang berbunyi bersamaan akibat sistem peringatan dini gempa.

“Saat itu terjadi banyak guncangan dan kebingungan,” bebernya.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi gempa susulan berkekuatan besar. Peringatan tersebut menjadi penting mengingat proses pencarian korban gempa Jepang masih berlangsung dan risiko bencana lanjutan masih tinggi.

“Selama sekitar satu minggu ke depan, khususnya dua hingga tiga hari ke depan, kami meminta masyarakat untuk mewaspadai potensi gempa bumi dengan intensitas seismik maksimum hingga skala 7,” kata seorang pejabat JMA. (beritasatu*)