JAGABERITA.ID – Seorang tentara Perancis tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon, Sabtu (18/4/2026). Presiden Perancis Emmanuel Macron menyebutkan, indikasi awal mengarah pada keterlibatan kelompok Hizbullah dalam insiden tersebut. “Semuanya mengarah pada Hizbullah yang bertanggung jawab atas serangan ini,” tulis Macron, seraya mendesak otoritas Lebanon segera menangkap para pelaku.
Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata 10 hari yang disepakati Israel dan Lebanon pada Kamis (16/4/2026), untuk membuka jalan negosiasi mengakhiri perang enam minggu antara Israel dan Hizbullah, kelompok yang didukung Iran.
Adapun korban tewas bernama Sersan Staf Florian Montorio
Menteri Angkatan Bersenjata Perancis Catherine Vautrin mengatakan, nyawa Montorio melayang akibat tembakan langsung saat unitnya disergap ketika menuju pos terdepan UNIFIL. Ia menjelaskan, pos itu terputus aksesnya selama beberapa hari karena pertempuran di daerah tersebut.
“Penyergapan dilakukan oleh kelompok bersenjata dari jarak yang sangat dekat,” kata Vautrin.
Menurut dia, Montorio sempat dievakuasi oleh rekan-rekannya di tengah tembakan, tetapi nyawanya tidak tertolong.
UNIFIL dalam pernyataan resminya menyebutkan, pasukan mereka diserang dengan senjata ringan oleh aktor non-negara saat menjalankan misi penyingkiran bahan peledak di desa Ghanduriyah. UNIFIL pun menyatakan, penilaian awal menunjukkan tembakan diduga berasal dari Hizbullah.
Jika terbukti benar, maka insiden ini berpotensi menjadi kejahatan perang. UNIFIL kini telah memulai penyelidikan.
Sementara itu, Macron berkomunikasi dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam, meminta Pemerintah Lebanon memastikan keamanan pasukan UNIFIL.
Aoun mengecam serangan tersebut dan berjanji akan menyeret pelaku ke pengadilan, sedangkan Salam juga memerintahkan penyelidikan terkait insiden itu. (kompas*)












