JAGABERITA.ID – Fenomena penutupan diler belakangan tidak hanya terjadi di industri mobil. Sejumlah diler sepeda motor di Jabodetabek juga diketahui menghentikan operasionalnya. PT Wahana Makmur Sejati (WMS) selaku main dealer Honda untuk wilayah Jakarta-Tangerang menyebut faktor regenerasi menjadi alasan utama di balik tutupnya beberapa diler.
Division Head of Sales PT Wahana Makmur Sejati, Olivia Widyasuwita, mengatakan bahwa sebagian besar kasus penutupan diler terjadi karena pemilik usaha tidak memiliki penerus yang ingin melanjutkan bisnis keluarga. “Kalaupun ada yang tutup biasanya itu karena tidak ada penerus, itu yang agak susah ya. Karena sekarang kan generasi-generasi yang muda itu kan mungkin punya visi dan misi yang berbeda dengan orang tuanya,” kata Olivia,, Kamis (25/6/2026).
Tidak Ada Penerus Menurut Olivia, penutupan diler bukan berarti bisnis penjualan sepeda motor sudah tidak menarik. Justru, ketika ada outlet yang berhenti beroperasi, biasanya langsung muncul pihak lain yang berminat mengambil alih atau menggantikan lokasi tersebut. “Jadi yang membuat kami berpikir bahwa ini adalah bisnis yang memang masih sangat menarik gitu,” ujarnya. Ia menegaskan, banyak pemilik diler yang memilih menutup usaha karena memasuki masa pensiun dan tidak memiliki penerus yang siap melanjutkan operasional bisnis.
Ada (diler yang tutup), yang tadi saya bilang itu, karena belum ada penerus lagi. Jumlahnya sedikit (yang tutup),” ucap Olivia. Hingga Juni 2026, menurut dia, WMS memiliki sekitar 115 outlet Honda yang tersebar di wilayah Jakarta dan Tangerang.
Pasar Motor Menurun
Di tengah keberadaan jaringan yang cukup besar, Wahana mengaku belum memiliki rencana untuk menambah jumlah diler dalam waktu dekat. Menurut Olivia, kondisi pasar sepeda motor di Jakarta-Tangerang secara total, sebenarnya menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, pihaknya masih mampu mencatatkan peningkatan volume penjualan karena pangsa pasarnya terus bertambah. “Karena kami punya market share naik terus, jadi kami masih bisa gain itu, volume kami masih bisa naik,” ujar Olivia. “Tapi sebenarnya kalau kita bicara market, ya itu kalau menurut saya karena transportasi umum yang semakin baik ya kan, banyak hal lah,” katanya.
Selain itu, kebijakan pajak progresif juga dinilai ikut memengaruhi keputusan masyarakat dalam memiliki lebih dari satu sepeda motor. “Terus juga mungkin pajak progresif kan juga mungkin menyebabkan orang juga sudah cukuplah (memiliki motor). Istilahnya ya pajaknya makin mahal,” ujar dia. (kompas*)












