MIMPI untuk terus menimba ilmu dengan melanjutkan pendidikan lebih tinggi sampai di luar negeri akhirnya dapat diwujudkan. Pasalnya, tidak semua orang memiliki peluang emas tersebut. Namun, dengan keuletan dan tekad yang kuat, dan usaha keras itu mampu mewujudkan cita -cita tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Fajar, salah satu abdi negara ASN berprestasi Kota Semarang yang kini berkarir di Disperkim Kota Semarang yang termotivasi untuk terus mengembangkan diri dan ingin menuntaskan tugas belajarnya di luar negeri karena menjadi salah satu penerima Beasiswa AAS (Australia Awards Scholarship).
Fajar mengatakan, bahwa keinginan untuk belajar ke luar negeri, khususnya Australia sudah mulai ada sejak lulus sarjana jurusan Oseanografi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip Semarang tahun 2020. Namun, baru tahun 2025 bisa terwujud setelah dinyatakan lolos dan menjadi salah satu kandidat yang berhak mendapatkan beasiswa AAS dari pemerintah Australia untuk program Master. “Sebelumnya belum pernah terpikirkan tentang beasiswa AAS, karena awalnya saya mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa program LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Tapi karena di LPDP yang mensyaratkan minimal harus mendapatkan nilai tes bahasa inggris IELTS 6,5 itu tidak terpenuhi jadi memutuskan mundur diakhir waktu pendaftaran yang sudah mepet,”katanya, saat diwawancarai di Balaikota, baru-baru ini.
“Kalau informasi tentang beasiswa ini saya dapatkan dari mentor bahasa inggris saya saat ingin mempersiapkan persyaratan untuk LPDP, setelah tahu saya tidak memenuhi persyaratan untuk LPDP lalu Dia menyarankan untuk mencoba di AAS ini. Kebetulan mentor saya di IELTS pernah berkesempatan melanjutkan program PhD-nya di Australia juga melalui beasiswa Australia Awards Scholarship,”tambahnya.
Selanjutnya, setelah mencari bahan yang terkait AAS, ternyata syaratnya tidak beda jauh dengan LPDP, yang mensyaratkan selain kemampuan bahasa inggris IELTS 6 juga mengirimkan dokumen lainnya seperti mengisi data diri, CV, danmenulis essay yang menanyakan tentang motivasi dan alasan kenapa ingin melanjutkan studi di Australia.
“Setelah tahu banyak, saya apply lah yang awalnya sama sekali tidak tahu, alhamudlillah lancar karena semua persiapan sudah punya, tinggal sedikit beda formatnya dan menyesuaikan saja. Itu mulainya dari bulan Februari, dan akhirnya di bulan Agustus 2025 diumumkan lolos untuk menerima beasiswa AAS yang sebelumnya mengikuti tahap wawancara di bulan Juli. Dari 500 an orang yang lolos ke tahap wawancara itu dengan jumlah pelamar awal mencapai 7000 an dan yang diterima 200 -an orang, termasuk saya,”papar pria kelahiran 1998 ini,.
Sedangkan waktu persiapan sendiri kata Fajar, terbilang cukup lama, mulai tahap pendaftaran dan proses persiapan membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Adapun alasan dirinya memilih Australia untuk melanjutkan studinya di negeri Kanguru karena selain memiliki kualitas pendidikan dan sebagai negara maju juga karena jaraknya relatif dekat dengan Indonesia. “Tapi atmosfer sama dengan negara eropa lainnya yang punya empat musim. Lalu, hubungan bilateral kedua negara terjalin sudah cukup lama, dan kerjasama Indonesia-Australia yang berlangsung puluhan tahun,”jelasnya.
Fajar menambahkan, di kampus Australia juga memiliki jurusan yang sesuai dengan karakter kebutuhan kota semarang, yakni terkait dengan masalah klasik yaitu banjir dan robnya. Studi yang berkaitan erat dengan lingkungan serta penanganan banjir dan penurunan muka tanah yang nantinya dipelajarinya. “Ini juga yang menjadi alasan kuat saya untuk menimba ilmu sebanyak- banyaknya agar bisa diterapkan setelah pulang ke Tanah Air,”ungkap calon mahasiswa Master of Environment and Master of Sustainable Development Macquarie University itu.
“Ini pengalaman pertama kalinya keluar negeri dan Australia menjadi negara yang menerima banyak sekali diaspora dari negara lain, selain culture dan penduduk yang beragam. Insyaallah Juni ini berangkat dengan masa tugas belajar selama dua tahun di sana,”harapnya.
Kini dia merasa yakin bisa menempuh pendidikan di Australia dengan baik. Pasalnya, telah dipersiapkan segala sesuatunya dengan baik dari program beasiswa ini. Sebelum berangkat tugas belajar, telah diberikan pembekalan komprehensif mulai dari fasilitas dan mencakup biaya hidup selama kuliah nantinya. Serta kesempatan untuk mengenal budaya lokal lebih luas sehingga nantinya bisa bersosialisasi dengan baik saat di kampus maupun bermasyarakat. “Sebelum diterima saat melakukan wawancara di Jakarta kami pun sudah diberikan fasilitas berupa tiket pulang pergi dan biaya hidup selama dua hari di Jakarta. Terus setelah diterima kami mendapatkan pelatihan bahasa inggris intensif di Bali sekitar lima bulan,”katanya.
Menurut Fajar kegiatan pelatihan ini sangat penting karena diberikan matrikulasi akademik, dan pengetahuan lebih banyak tentang suasana kampus nantinya sehingga bisa cepat beradaptasi. “harapannya dari sisi mental menjadi siap dan bisa cepat beradaptasi dan bersosialisasi sehingga tinggal fokus untuk belajar,”ujar pria yang juga hobi travelling ini.
Dirinya juga mengungkapkan merasa tenang karena seluruh biaya hidup/ living cost dan sewa rumah dan transportasi serta biaya sehari hari diberikan ke penerima beasiswa. ” Ada dukungan lagi berupa diskon untuk yang membawa keluarganya, misalnya kebutuhan sekolah anak di jenjang SD serta manfaat lainnya juga,”terangnya.
Bagi Fajar bisa merasakan belajar di luar negeri, adalah kesempatan yang berharga, sebab ilmunya nanti akan diterapkan dan bermanfaat sekembalinya pulang ke Indonesia. Karena salah satu syarat jika ingin melanjutkan tugas belajar ada mekanisme di dalam kontrak yaitu wajib kembali ke Indonesia, selain itu AAS juga mewajibkan awardee untuk meninggalkan Australia setelah menyelesaikan studi. “Dan ini juga yang menjadi tekad saya pribadi saya tetap pulang Indonesia ke rumah sendiri dan tidak akan terlena kehidupan di luar negeri. Harapannya kegiatan di kampus selama masa studi bisa diterapkan dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan, maupun kota Semarang,”ujarnya.
Dia juga sepakat jika menuntut ilmu tidak harus di usia masih muda namun tanpa dibatasi. Menurut Fajar yang terpenting adalah ada kemauan dari diri sendiri. “kalau ada orang mengatakan, mumpung masih muda masih kuat yang belajar ternyata terbantahkan setelah dirinya banyak bertemu dengan penerima beasiswa lainnya yang sudah tidak muda lagi. Kalau masih ada hambatan karena terbentur dengan masalah minimnya kemampuan bahasa inggris dan lainnya itu bisa dikejar. tentunya dengan persiapan mempelajari bahasa inggris intensif mulai kursus singkat dua minggu sampai 9 bulan,”katanya.
“Prestasi yang didapat tersebut tidak bisa terwujud tanpa dukungan dari keluarga dan rekan sejawat serta pimpinan di lingkungan kerja yang selalu mendukung dan memberikan semangat untuk terus mengembangkan diri. Jadi kesempatan dan kepercayaan untuk belajar ini saya pakai dengan sebaik-baiknya dan menerapkan ilmu yang didapat untuk kemanfaatan diri sendiri dan lingkungan sekitar,”pungkas Fajar. (yuli)












