JAGABERITA.ID – Masuk tahun yang ke- 2, Ajang Lawang Sewu Short Film (LOFF) 2026 menjadi ajang bagi sineas muda memproduksi film pendek yang makin berkualitas sekaligus menggairahkan ekosistem industri perfilman di Tanah Air. Sehingga makin banyak sineas muda masa depan yang lahir dari kota Semarang, yang bisa mengangkat kota Semarang menjadi kota sineas.
Hal itu diungkapkan Walikota Semarang, Agustian Wilujeng saat menghadiri Malam Anugerah LOFF 2026 Jumat malam.Walikota Semarang berharap dengan kehadiran LOFF bisa mewujudkan kota Semarang menjadi kota Sineas mengikuti kota sineas lain yang lebih dulu eksis.“Tahun depan, kita ingin jadi kota Sinema, LOFF akan berlanjut di tahun 2027, dan direncanakan makin baik. Sebelumnya kita sudah belajar dari Jakarta, Yogyakarta, Bali yang terlebih dulu eksis dan Kota Semarang ingin mengembangkan ekosistem film di sini, dan sangat terbuka untuk mendukung industri film Tanah Air,”ujar Agustina Wulujeng dalam sambutannya di acara Malam Anugerah LOFF 2026 di Gedung baru Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jumat (23/10/2026).
Nampak hadir pula para juri LOFF 2026, serta tokoh film nasional, diantaranya Hanung Brahmantyo, Nirina Zubir, Yandi Lauren, Ferry Salim, lalu unsur pemerintah, Irini Dewiyanti dari Kementerian Kebudayaan RI.
Agustina juga mengapresiasi sejumlah tokoh film nasional dan semua pihak yang mendukung terselenggarannya acara LOFF tahun 2026 ini. “Tahun ini lebih meriah dari tahun sebelumnya dan sejumlah tokoh film nasional juga ingin turut mengangkat kota Semarang jadi kota sinema. Kalau aku bayar gak kuat deh. Menurut para ekspert, film yang masuk finalis dari peserta bagus banget, nantinya film pendek ini juga bisa ditayangkan agar masyarakat bisa menonton dan jadi inspirasi jika membuat film ada masa depannya,”katanya. “Tadi ada sebanyak 38 proposal film pendek untuk produksi. Dan ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar untuk kita berpikir bagaimana caranya bisa dilanjutkan. Tidak bisa hanya APBD kota Semarang tapi kreatif finansial akan kita lakukan,”paparnya. Sutradara nasional, Hanung Bramantyo mengaku, bahwa karya sineas muda tahun 2026 makin berkualitas. “Jika kita bandingkan saat zaman SMA saya, kalau dibandingkan karya milik peserta kategori pelajar yang masuk di LOFF ini nggak mungkin. Karena pelajar SMA sudah bisa buat film yang bagus, zaman saya sekolah tidak mungkin bisa dilakukan karena kamera mahal dan bahan baku kaset sangat mahal,”kata Hanung.“Kalau kategori umum dan mahasiswa bagus banget, bahkan karyanya untuk ajang kompetisi internasional. Jadi gap-nya terlalu jauh banget, juri pun kaget melihat karya peserta yang masuk di LOFF yang baru berumur 2 tahun berjalan,”imbuh Hanung.
Ketua komite LOFF, Samuel Wattimena menjelaskan, bahwa tema tahun 2026 mengangkat Seribu Pintu Menuju Sinema Dunia. Diluncurkan bulan Mei lalu, selain kompetisi film juga diisi mini lab, lokakarya, dan pendampingan intensif dari para praktisi film.“Ada 167 film pendek yang ambil bagian, 20 karya terpilih, 31 proposal ide cerita. Dan delapan tim diberikan pendampingan intensif dari para sineas perfilman nasional,”katanya.Diumumkan dalam Malam Anugerah LOFF 2026, karya film pendek terbaik oleh Walikota Semarang, yaitu kategori Pelajar diraih judul film Sri Rejeki, lalu kategori Mahasiswa dengan judul Curhatan Revi Siterusah dan kategori Umum berjudul Sekat-sekat. Serta ada satu film yang didukung dengan pendanaan produksi sebesar Rp 50 juta, kepada Segi Film dengan judul karya pendek Pedas Level Up. (Yuli)











