BeritaDaerah

Dinilai Tak Pantas, MUI Jateng Buka Suara Pertunjukan Berbau Satanis di Karnaval Pekalongan

9
×

Dinilai Tak Pantas, MUI Jateng Buka Suara Pertunjukan Berbau Satanis di Karnaval Pekalongan

Sebarkan artikel ini
Karnaval Pekalongan di Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Kamis (10/9/2026)
Karnaval Pekalongan di Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Kamis (10/9/2026)

JAGABERITA.ID – Pertujukan berbau satanis di Parade Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 dinilai tidak pantas. Sebab, MUI menilai pertunjukan tersebut terlebih digelar untuk memperingati Maulid Nabi.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jawa Tengah, KH Daroji mengatakan, jika apa yang tidak pantas dipandang umum dan itu kaitannya dengan agama yaitu tentu tidak baik. “Apalagi itu dikaitkan dengan Maulid Nabi,” ujar Senin (14/9).

Ia menilai pertunjukan semacam itu justru dapat membuat citra peringatan Maulid Nabi menjadi buruk di Indonesia.

“Jangan-jangan di situ sengaja supaya agar orang itu memandang Maulid Nabi suatu yang tidak perlu dilakukan, mungkin begitu. Jangan-jangan maksudnya justru mau merendahkan Nabi dengan contoh yang disampaikan,” ucapnya.

Ia menegaskan peringatan Maulid Nabi seharusnya diisi dengan kegiatan atau acara yang baik dan bermanfaat, bukan kegiatan yang justru menimbulkan kecaman di tengah masyarakat.

“Kalau sampai ada kecaman itu berarti memang itu tidak pantas dilakukan. Tidak pernah ya diajarkan kepada kita mengenai kelahiran seorang siapapun, apalagi Nabi. Nabi contoh yang terbaik, diperingati dengan cara yang tidak wajar dan tidak pantas itu tidak benar, gitu,” tegasnya.

Ia pun meminta masyarakat mengisi peringatan Maulid Nabi dengan kegiatan positif dan memberikan manfaat.

“Jadi itu kita harapkan umat di Indonesia ini memperingati Rasulullah itu dengan ceramah, dengan membaca sholawat beliau. Dan dijelaskan perilaku Rasulullah itu begini dan contohnya menjadi contoh kehidupan kita semuanya. Harusnya itu yang dilakukan,” jelasnya.

Daroji juga menyinggung kemungkinan adanya unsur penistaan agama dalam pertunjukan tersebut. Namun, ia berharap hal itu tidak terjadi.

“Mudah-mudahan tidak terjadi (penistaan). Tetapi bisa jadi orang yang kemudian mengarah ke sana ini penistaan, ini kok Nabi kok dicontohkannya begini. Itu bisa terjadi, tapi mudah-mudahan tidak terjadi,” pungkas Daroji. (Kumparan*)