JAGABERITA.ID – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) menimbulkan dampak besar. Hingga Jumat (4/9/2026), sebanyak 129 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 115.321 warga masih mengungsi.
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa tersebut juga menyebabkan 1.723 orang mengalami luka-luka.
Besarnya jumlah pengungsi menunjukkan dampak gempa masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah terdampak, terutama warga yang rumahnya mengalami kerusakan dan belum dapat kembali beraktivitas secara normal.
Selain menimbulkan korban jiwa, gempa magnitudo 7,7 juga menyebabkan kerusakan besar pada permukiman warga. BNPB mencatat sebanyak 98.986 unit rumah mengalami kerusakan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 26.089 unit rumah rusak berat, 22.505 unit rumah rusak sedang, dan 50.392 unit rumah rusak ringan. Kerusakan rumah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan lebih dari 115.000 warga harus bertahan di lokasi pengungsian.
Dampak gempa juga dirasakan pada berbagai fasilitas publik dan infrastruktur. BNPB mencatat sebanyak 502 unit fasilitas pendidikan mengalami kerusakan akibat gempa. Selain itu, terdapat 157 unit fasilitas kesehatan yang terdampak.
Kerusakan juga terjadi pada 528 rumah ibadah serta 607 fasilitas pemerintah. Di sektor infrastruktur, gempa dilaporkan merusak 160 titik jalan dan 47 fasilitas irigasi. Kerusakan tersebut menjadi salah satu tantangan dalam percepatan penanganan darurat dan pemulihan wilayah terdampak gempa. Musibah gempa bumi di NTT juga sempat dikunjungi Presiden Prabowo Subianto, dalam kunjungannya sekaligus memastikan penanganan korban gempa untuk memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari.
BNPB menyatakan pendataan korban serta kerusakan infrastruktur masih terus dilakukan. Data diperoleh dari berbagai posko penanganan bencana di wilayah terdampak dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan kondisi di lapangan.(beritasatu*)












