BeritaDaerahPeristiwa

Dilanda Kekeringan, 200 Hektare Sawah di Majalengka Gagal Panen

27
×

Dilanda Kekeringan, 200 Hektare Sawah di Majalengka Gagal Panen

Sebarkan artikel ini
Kekeringan yang melanda Kabupaten Majalengka, Jawa Barat,
Kekeringan yang melanda Kabupaten Majalengka, Jawa Barat,

JAGABERITA.ID – Kekeringan yang melanda Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menyebabkan sekitar 200 hektare sawah di Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati, gagal panen. Tanaman padi yang seharusnya siap dipetik justru mati akibat tidak mendapatkan pasokan air karena sumber irigasi mengering.

Seorang petani, Casmita, mengatakan hujan tidak turun selama hampir satu setengah bulan. Akibatnya, Situ Cijingga yang menjadi sumber irigasi utama mengering, sehingga ratusan hektare sawah tidak lagi mendapatkan aliran air.

“Sudah hampir 1,5 bulan di sini tidak turun hujan, jadi kondisinya sangat kering. Padahal sebenarnya ini sudah waktunya panen, padi sudah berisi, tetapi akhirnya gagal karena kekurangan air dan sama sekali tidak dapat pasokan air,” ujar Sasmita, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Casmita, hampir seluruh petani di Desa Mekarjaya mengalami nasib serupa. Ia menyebut kekeringan yang berujung gagal panen hampir selalu terjadi setiap musim kemarau.
“Kejadian seperti ini sudah sering terjadi di desa kami, hampir setiap tahun, tetapi belum ada solusi dari pemerintah,” ujarnya.

Ia memperkirakan luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 200 hektare. Para petani berharap Pemerintah Kabupaten Majalengka melalui Dinas Pertanian segera membangun solusi permanen agar persoalan kekeringan tidak terus berulang.

“Kebetulan di sini ada embung Situ Cijingga yang sekarang juga kering. Saya berharap ada solusi nyata, seperti pembuatan sodetan dari Sungai Cipanas atau skema lainnya, agar embung tersebut bisa menampung air untuk kebutuhan pertanian kami,” ujarnya.

Selain menyebabkan gagal panen, cuaca panas dan kondisi lahan yang sangat kering juga memicu kebakaran di area persawahan.

Salah seorang petani, Dede, harus menanggung kerugian puluhan juta rupiah setelah sawah miliknya seluas sekitar 100 bata atau sekitar 1.400 meter persegi terbakar saat padi siap dipanen.

Dede mengatakan kebakaran terjadi secara tiba-tiba ketika dirinya sedang memanen padi seorang diri. Saat itu, ia melihat kepulan asap dari bagian depan sawah yang kemudian berubah menjadi kobaran api besar.

“Saya tidak tahu kalau ada api di sebelah sana. Tiba-tiba saat saya sedang panen dan berdiri, saya melihat ke depan sudah ada asap. Tahu-tahu apinya sudah membesar,” ungkapnya.

Karena tidak ada warga di sekitar lokasi, Dede berusaha memadamkan api seorang diri menggunakan kayu panjang. Namun, upaya tersebut gagal karena kobaran api terus membesar hingga menghanguskan seluruh tanaman padinya. (beritasatu*)