JAGABERITA.ID – Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Sabtu (11/7/2026). Meski demikian, minyak tetap membukukan kenaikan mingguan yang cukup tajam seiring optimisme pasar terhadap kemungkinan kembali normalnya pelayaran di Selat Hormuz seusai meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Minyak mentah Brent ditutup turun 29 sen atau 0,38 persen menjadi US$ 76,01 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 67 sen atau 0,93 persen menjadi US$ 71,41 per barel.
Secara mingguan, harga Brent naik sekitar 5,5 persen, sedangkan WTI menguat hampir 4 persen.
Mitra Again Capital, John Kilduff mengatakan pasar saat ini cenderung merespons positif setiap perkembangan yang menunjukkan situasi tidak semakin memburuk.
“Pasar siap menyambut kabar baik atau setidaknya tidak adanya kabar buruk. Saat ini tampaknya eskalasi konflik tidak akan menjadi lebih buruk,” ujar John Kilduff.
Berakhirnya aksi saling serang antara AS dan Iran serta rencana dimulainya kembali perundingan kedua negara pada pekan depan turut meningkatkan harapan pasar bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya.
Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn mengatakan penurunan harga minyak menunjukkan pelaku pasar yakin jalur pelayaran tersebut tidak akan ditutup dalam waktu lama.
“Menariknya, harga minyak justru turun setelah sempat melonjak mendekati US$ 76 per barel, meskipun Selat Hormuz kembali praktis ditutup. Hal itu didorong keyakinan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat tidak akan membiarkan Selat Hormuz ditutup dalam jangka waktu panjang,” kata Flynn.
Pada Kamis (9/7/2026), militer Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di sejumlah negara Teluk sebagai respons atas serangan AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran.
Harga minyak kemudian memangkas penguatan setelah Reuters melaporkan negosiator Qatar berada di Iran untuk bertemu para pejabat setempat guna meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi kelanjutan perundingan yang lebih luas.
International Energy Agency (IEA) menilai meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran berpotensi menggagalkan proyeksi surplus pasokan minyak global pada 2027.
Perkembangan tersebut juga menunda pembukaan penuh Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sebelum pecahnya perang pada 28 Februari 2026 mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia setiap hari. (beritasatu*)












