BeritaEkonomi

Pendapatan Negara 2026 Lampaui Target, Lonjakan Defisit APBN untuk Bayar Kompensasi dan Subsidi

13
×

Pendapatan Negara 2026 Lampaui Target, Lonjakan Defisit APBN untuk Bayar Kompensasi dan Subsidi

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa

JAGABERITA.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pendapatan negara sepanjang 2026 mencapai Rp 3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari target APBN sebesar Rp 3.153,6 triliun. Meski penerimaan diperkirakan melampaui target, pemerintah tetap memperkirakan defisit APBN melebar karena pertumbuhan belanja negara lebih tinggi.

Proyeksi tersebut disampaikan Purbaya dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pendapatan negara sepanjang 2026 mencapai Rp 3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari target APBN sebesar Rp 3.153,6 triliun. Meski penerimaan diperkirakan melampaui target, pemerintah tetap memperkirakan defisit APBN melebar karena pertumbuhan belanja negara lebih tinggi.

Proyeksi tersebut disampaikan Purbaya dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Pada sisi lain, belanja negara diproyeksikan mencapai Rp 3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu APBN sebesar Rp 3.842,7 triliun. Kenaikan belanja tersebut diperkirakan melampaui pagu sekitar Rp 99,7 triliun.

Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN 2026 diproyeksikan mencapai Rp 734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka itu lebih tinggi dibandingkan target awal sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen PDB.

Menurut Purbaya, peningkatan belanja terutama digunakan untuk mendukung berbagai program prioritas pemerintah, menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat, mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah, penanggulangan bencana, serta tambahan dana otonomi khusus.

Pemerintah juga telah memperhitungkan tambahan anggaran sebesar Rp 132 triliun untuk pembayaran kewajiban subsidi dan kompensasi.

“Selain itu, outlook belanja tersebut sudah memperhitungkan tambahan sebesar Rp 132 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah subsidi dan kompensasi,” jelas Purbaya.

Sejumlah program prioritas yang dibiayai melalui APBN, antara lain makan bergizi gratis, revitalisasi sekolah, cek kesehatan gratis, sekolah rakyat, serta Koperasi Desa Merah Putih. Realisasi program-program tersebut diperkirakan membuat belanja pemerintah meningkat pada semester II 2026.

Purbaya menjelaskan lonjakan defisit akan lebih banyak terjadi pada paruh kedua tahun karena sejumlah belanja pemerintah baru direalisasikan pada semester II. Meski demikian, pemerintah memastikan defisit APBN tetap berada di bawah batas maksimal 3 persen terhadap PDB.

“Hitungannya akan lebih tinggi karena kita akan ada belanja-belanja yang terakumulasi di semester II. Tapi kita pastikan bahwa anggaran kita tetap terkendali dan defisit akan di bawah 3 persen,” tegas Purbaya. (beritasatu*)