BeritaDaerahPeristiwa

Jenazah Korban Ledakan Bom di Biak Diberangkatkan ke Yapen untuk Dimakamkan

3
×

Jenazah Korban Ledakan Bom di Biak Diberangkatkan ke Yapen untuk Dimakamkan

Sebarkan artikel ini

JAGABERITA.ID – Jenazah almarhumah Mina Puadi, korban ledakan bom peninggalan Perang Dunia (PD) II di Biak Numfor, dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Kepulauan Yapen, untuk dimakamkan. Pemulangan jenazah dilakukan melalui jalur laut dengan menggunakan speedboat milik masyarakat.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, menjelaskan bahwa jenazah dibawa dari RSUD Biak menuju Pelabuhan Rakyat Tip Top, Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, untuk prosesi pemulangan selanjutnya.

Menurut Cahyo, sekitar pukul 12.14 WIT, Speedboat yang membawa jenazah korban bertolak dari pelabuhan dan bergerak menuju Kabupaten Kepulauan Yapen.

“Proses pemulangan ini didampingi oleh lima orang perwakilan pihak keluarga yang ikut mengantarkan almarhumah hingga ke kampung halaman di Kabupaten Kepulauan Yapen,” ujar Kombes Cahyo Sukarnito pada Senin malam.

Selain pihak keluarga, pelepasan jenazah di pelabuhan juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah setempat, yang diwakili langsung oleh Kepala Kelurahan Fandoi, Frans Rumsarwir.

Mewakili Polda Papua, Kombes Cahyo menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya korban. Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban sempat mendapatkan perawatan medis secara intensif di RSUD Biak akibat luka-luka yang dideritanya.

“Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas berpulangnya almarhumah Mina Puadi setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Biak,” ujar Kombes Pol Cahyo Sukarnito.

Sebelumnya, Mina Puadi (51) meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Biak pada Selasa (2/6/2026) dini hari. Mina Puadi awalnya hanya terlihat mengalami luka pada bagian dahi akibat ledakan yang terjadi di kawasan Kompleks Perikanan. Namun, setelah menjalani observasi dan pemeriksaan medis secara intensif di RSUD Biak, tim dokter menemukan adanya patah tulang rusuk sebelah kiri serta pendarahan pada organ limpa yang memerlukan tindakan operasi segera.

“Karena mengalami pendarahan, maka korban kemudian menjalani operasi untuk menghentikan pendarahan. Setelah operasi selesai, kondisi korban sempat menunjukkan perkembangan yang stabil,” ujar Kombes Cahyo,Selasa siang.

Namun, beberapa jam setelah menjalani operasi, kondisi kesehatannya kembali menurun hingga harus mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU dengan bantuan ventilator. “Setelah melalui serangkaian upaya medis, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Selasa pagi sekitar pukul 04.06 WIT,” pungkas Kombes Cahyo. (kompas*)