BeritaDaerahPeristiwa

Sebanyak 79 Korban Gempa NTT Alami Fraktur dan Cedera Kepala

12
×

Sebanyak 79 Korban Gempa NTT Alami Fraktur dan Cedera Kepala

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus

JAGABERITA.ID – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan sebanyak 79 korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Minggu (16/8/2026), membutuhkan penanganan medis akibat mengalami fraktur hingga cedera kepala.

Benjamin mengatakan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring proses pencarian dan penanganan korban yang terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak.

“Angka kira-kira yang membutuhkan pertolongan karena fraktur, cedera kepala, sampai kemarin 79 orang, tetapi saya kira akan naik terus,” ujar Benjamin di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (18/8/2026).

Meski demikian, dia memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa masih dalam kondisi terkendali. Menurut Benjamin, Kementerian Kesehatan telah melakukan pemetaan fasilitas kesehatan terdampak dan mengerahkan tenaga medis ke sejumlah wilayah, termasuk Nagekeo, Ngada, Ruteng, dan Ende.

Selain tenaga medis dari pemerintah, sejumlah dokter juga bergerak secara mandiri untuk membantu penanganan korban pascagempa. Bahkan, delapan dokter spesialis ortopedi dari Makassar dan sejumlah daerah lainnya telah berada di wilayah terdampak.

“Tadi sudah delapan dokter ahli ortopedi khususnya, jadi mereka berangkat sendiri, biaya sendiri,” katanya.

Untuk mempercepat distribusi tenaga medis, Kementerian Kesehatan berkoordinasi dengan BNPB agar para dokter yang tiba di Labuan Bajo dapat segera didistribusikan ke wilayah yang membutuhkan menggunakan pesawat maupun helikopter.

Benjamin mengatakan Kemenkes juga mendirikan rumah sakit darurat di Nagekeo dan Ruteng setelah fasilitas rumah sakit di dua wilayah tersebut mengalami kerusakan berat. “Di Nagekeo dan di Ruteng itu rumah sakitnya rusak total. Jadi kita bikin rumah sakit darurat,” ujarnya.

Sementara itu, dari 21 rumah sakit yang terdampak gempa, sebanyak 16 rumah sakit masih dapat beroperasi secara maksimal. Empat rumah sakit mengalami gangguan, tetapi masih dapat digunakan untuk memberikan pelayanan.

Adapun kondisi fasilitas puskesmas juga bervariasi. Dari total 190 puskesmas, sebanyak 122 masih beroperasi maksimal, 49 mengalami kerusakan sebagian namun tetap memberikan pelayanan, sedangkan 19 puskesmas mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat digunakan.

Untuk menggantikan pelayanan di puskesmas yang rusak parah, pemerintah memasang tenda-tenda darurat di sekitar fasilitas kesehatan tersebut.

“Pelayanan dalam keadaan terkendali, saya kira itu berita baiknya,” kata Benjamin.

Dia menambahkan, koordinasi penanganan dilakukan melalui pusat krisis Kementerian Kesehatan di wilayah terdampak. Tim medis yang dikirim juga dilengkapi tenaga kesehatan dan peralatan medis serta disiapkan untuk bertugas selama sekitar satu pekan.

Benjamin juga mengakui masih terdapat kemungkinan adanya warga yang terisolasi akibat kondisi geografis dan kerusakan infrastruktur pascagempa. Dia memastikan pemerintah terus mempercepat pencarian, evakuasi, dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. (beritasatu*)