JAGABERITA.ID – Belum lama ini ramai di media sosial (Medsos) seorang penumpang maskapai Super Air Jet yang mengungkapkan kekecewaannya kepada awak kabin karena pesawat delayed sekitar lima jam tanpa kejelasan. Dalam salah satu video yang beredar di media sosial, situasi pada saat itu penumpang sudah berada di dalam pesawat. Namun, pesawat tidak kunjung terbang. “Kalau Mas mondar mandir, ini orang ratusan orang di sini, maksudnya kasih info, bisa atau engga pergi. Kalau emang ga bisa, ngomong, kasih kita pesawat yang lain. Lima jam, saya mau ngadain birthday party anak saya,” kata salah seorang penumpang, dalam salah satu video yang diunggah oleh pengguna TikTok @Laura, dikutip Sabtu (14/2/2026).
Bobby mengatakan, setelah kejadian tersebut, seluruh penumpang akhirnya dipindahkan ke pesawat yang baru. Namun, alih-alih tiba di tujuan dengan selamat, Bobby bersama sang istri, anak, dan adik, malah ditinggal terbang, dengan kondisi koper masih berada di dalam pesawat. Apa yang sebenarnya terjadi? Bobby menceritakan, awalnya ia bersama istri, anak, dan sang adik memesan tiket pesawat Super Air Jet rute Jakarta-Bali, untuk keberangkatan sekitar pukul 1 siang. Namun, setelahnya, penumpang diinformasikan oleh pihak maskapai bahwa terjadi keterlambatan keberangkatan pesawat alias delayed sekitar 30 menit. “Kata mereka (delayed) 30 menit awalnya. Oh, masih okelah 30 menit gitu, kita tunggu, tapi lama-kelamaan makin lama makin parah, sampai titik di mana tiga jam itu kita udah nunggu,” kata Bobby, menjelaskan.
Bobby mengatakan, pada saat itu kondisi Cempaka, sang anak, sudah muntah karena kondisi ruangan yang dingin. Setelahnya, Bobby dan sang istri langsung menyiapkan segala keperluan sang anak. “Kita siapin itu (perlengkapan sang anak) yang dari Bogor ke Bandara itu cuman peralatan yang siap ditembus sekitar 5 jam doang. Enggak lebih gitu kayak susu, pampers, segala macam,” kata Bobby. Setelah menunggu sekitar empat jam di luar pesawat, barulah penumpang pesawat disuruh masuk ke dalam pesawat sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah masuk ke dalam pesawat, lanjutnya, kondisi kembali tidak kondusif, karena setelah 40 menit di dalam pesawat, pesawat tidak kunjung berangkat, dan AC pesawat dalam kondisi mati.
“Semua orang tuh pada diam di situ, enggak ada yang speak up, tapi ternyata istri saya tuh udah ngechat saya, anak sudah rungsing, udah kepanasan,”ujarnya.
Lalu, Bobby memutuskan untuk maju dan jalan ke depan berbicara dengan awak kabin. “Aku maju ke depan,aku ngomong dengan baik gitu walaupun dengan nada tinggi, karena menurutku ini udah enggak masuk akal. Mereka enggak ada informasi apapun,” ujarnya. Bobby menuturkan, pada saat itu ada banyak bayi yang berada di dalam pesawat, dan tidak hanya anaknya saja. Beberapa saat setelah itu, pihak maskapai kemudian memberitahu bahwa penumpang akan pindah pesawat.
Penumpang pindah pesawat Bobby melanjutkan, setelah informasi pergantian pesawat, semua penumpang akhirnya mengambil bagasi masing-masing, dan turun dari pesawat.
Kata Bobby, tidak ada pemberitahuan durasi pemindahan penumpang ke pesawat selanjutnya. Saat itu, tambahnya, sang anak sudah muntah untuk yang kedua kalinya. Alhasil Bobby dan istri membawa sang anak ke Lounge. “Aku sama adikku udah bolak-balik ke ke gate-nya, ngelihat udah sampai mana perkembangannya. Nah, saat saya ke sana itu memang udah pada masuk (pesawat) beberapa tuh, tinggal beberapa orang termasuk saya gitu,” katanya.
Bobby mengatakan, pada saat itu ia bertanya kepada seorang kru perempuan di boarding gate terkait situasi boarding ke pesawat pengganti. Kemudian, Bobby mengatakan kepada kru tersebut bahwa ia akan memanggil sang istri dan anak yang sedang demam di lounge. “Saya bilang gitu, demam. Nah, si krunya bilang, ‘Oke, Pak, kami tunggu’. Ya, oke, akhirnya karena di situ saya sama sama ponakan saya, saya bilang sama ponakan saya untuk tungguin,” katanya
Ditinggal pesawat Bobby meminta sang adik untuk menunggu di pintu keberangkatan, karena dikhawatirkan pesawat sudah lepas landas sebelum mereka masuk ke pesawat. Setelah itu, Bobby menuju lounge dengan bantuan shuttle, karena posisi lounge yang cukup jauh. Namun setelah tiba kembali di gate keberangkatan, Bobby mendapati sang adik menangis karena mendapati pesawat sudah lepas landas.
Setelah berbincang dengan kru yang ada di bandara, Bobby dan keluarga kemudian ditawari penerbangan esok hari pukul 11.00 WIB. “Nah, di situ saya langsung naik pitam. Kenapa? Karena itu waktunya lama banget, anak saya butuh susu, bahkan di situ anak saya sudah minum air putih. Saya di situ sedih, istri saya udah segukan nangis karena bayangin anak kecil seumur itu harus nunggu dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam,” terang Bobby. Setelah berbincang lebih lanjut, alhasil Bobby dan keluarga ditawari penerbangan pukul 4 pagi esok hari, dan penginapan yang berlokasi sekitar 14 kilometer dari bandara. “Kita enggak masalah sebenarnya, tapi yang kita jadi masalahin adalah susu, susu anak kita, waktu anak kita, anak kita tiba-tiba sakit saat nunggu di situ,” tutur Bobby.
Selang istirahat di penginapan sekitar tiga jam, Bobby dan sekeluarga kembali berangkat ke bandara pukul 2 pagi dini hari untuk penerbangan pagi hari menuju Bali.
“Sekarang (anak) masih sakit. Hari ini dipijat, terus kita beli diffuser, terus aku coba metode untuk buah pir diminum nanti pakai jahe. Nanti kalau enggak bisa juga, akhirnya kita mau ke uap, uap dekat sini yang dokter,” tuturnya. Bobby menuturkan, dari kejadian tersebut ia memutuskan untuk refund tiket Super Air Jet untuk pulang ke Jakarta, dan membeli tiket penerbangan baru menggunakan maskapai yang berbeda.
Bobby dan sang istri berhadap dari kejadian ini pihak maskapai bisa berbenah. Sebab, pengalaman tidak mengenakkan ini bukan yang pertama kali dialami oleh penumpang Super Air Jet. “Supaya pihak Super Air Jet sama Lion Group memperbaiki servisnya, karena korbannya tuh bukan kita doang ternyata. Bahkan ada yang sampai pesawat lampunya mati, itu lebih parah juga, semoga aja dengan kejadian ini viral, mereka jadi lebih baik,” tuturnya.
Apa tanggapan maskapai?
Pihak Lion Group mengamini kejadian tersebut. Katanya, kejadian ini dialami penumpang pesawat Super Air Jet dengan nomor penerbangan IU-742 rute Jakarta-Bali pada Kamis (12/2/2026). “Super Air Jet menyampaikan permohonan maat atas ketidaknyamanan yang dialami para tamu terkait keterlambatan keberangkatan penerbangan IU-742 rute Jakarta menuju Bali,” kata Corporate Communication Strategic Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro dalam keterangannya yang Kompas.com terima, Jumat (13/2/2026) malam. (kompas*)












