JAGABERITA.ID – Kementerian Pariwisata mendorong pemulihan usaha dengan menyalurkan bantuan bagi masyarakat Dusun Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) setelah terjadinya musibah kebakaran pada Sabtu (22/8/2026).
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, pemulihan pascakebakaran tidak dapat hanya berfokus pada pembangunan kembali bangunan yang terdampak. Kehidupan dan penghidupan masyarakat juga harus segera dipulihkan.
“Bangunan fisik Sade sedang dibangun kembali melalui semangat gotong royong yang sangat kuat. Tetapi pada saat yang sama, ekonomi masyarakat juga harus terus bergerak. Karena itu, bantuan Kementerian Pariwisata kami arahkan terutama untuk membantu warga kembali bekerja, kembali memproduksi, dan kembali memperoleh penghasilan,” ujar Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Kamis (1/10/2026).
Bantuan Kementerian Pariwisata meliputi 15 unit alat tenun gedogan senilai Rp 52,5 juta, modal kerja bagi 69 UMKM senilai Rp 517,5 juta, 70 paket bahan baku tenun senilai Rp 140 juta, serta 43 paket alat kerajinan non-tenun senilai Rp 107,5 juta. Total bantuan usaha dan alat kerja mencapai Rp 817,5 juta.
Dukungan juga diberikan dalam bentuk penguatan kapasitas pemandu lokal, khususnya terkait keselamatan, penyampaian informasi selama proses rekonstruksi, dan pelayanan wisata.
Kementerian Pariwisata juga mendukung promosi dan relaunching aktivitas wisata Sade selama dan setelah rekonstruksi, penyusunan katalog produk, penguatan branding produk asal Sade, serta pemasaran digital. Keseluruhan dukungan tersebut bernilai Rp 1 miliar.
Menpar Widiyanti berharap bantuan tersebut menjadi jembatan antara fase tanggap darurat, rekonstruksi, dan kebangkitan kembali aktivitas ekonomi serta pariwisata Sade.
“Kita ingin Sade kembali hidup, kembali menerima wisatawan, dan kembali menjadi tempat masyarakat mencari penghidupan. Tetapi yang paling penting, Sade harus bangkit tanpa kehilangan karakter dan jati dirinya,” imbuh Widiyanti.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Provinsi NTB, Lalu Faozal mengatakan, proses pembangunan kembali Sade telah dimulai dengan memperhatikan arahan Menteri Pariwisata saat memimpin rapat koordinasi pertama pascakebakaran.
Sejumlah aspek yang menjadi perhatian dalam rekonstruksi antara lain ketersediaan alat pemadam kebakaran, penataan jalur listrik di bawah tanah, serta perbaikan sanitasi dan drainase.
Langkah tersebut diarahkan agar Sade tidak hanya kembali seperti sebelumnya, tetapi menjadi lebih tangguh terhadap risiko bencana tanpa kehilangan karakter dan identitas budayanya.
Upaya pemulihan tersebut melanjutkan koordinasi yang dilakukan pemerintah sejak akhir Agustus 2026.
Dalam kunjungannya ke Sade pada 27 Agustus 2026, Menteri Pariwisata meninjau langsung kawasan terdampak dan berdialog dengan masyarakat.
Pemerintah daerah juga menegaskan pemulihan dilakukan dengan tetap menjaga karakter budaya masyarakat Sasak.
Kepala Dusun Sade, Endap mengatakan musyawarah warga terdampak telah menghasilkan komitmen bersama agar momentum rekonstruksi digunakan untuk membangun Sade menjadi lebih baik.
Dia menyebut Sade yang lebih baik bukan hanya berarti bangunan fisik yang lebih aman, tetapi juga tata kelola destinasi yang lebih baik, sehingga Sade tetap menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus destinasi wisata budaya yang berkelanjutan. (ant*)












