JAGABERITA.ID – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menilai ketahanan energi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara di kawasan, terutama dalam hal ketergantungan terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah.
Menurut Faisal, Indonesia memiliki tingkat ketergantungan yang jauh lebih rendah dibandingkan negara sejawat seperti Filipina dan Malaysia.
“Kita perlu bersiap menghadapi kondisi yang memang tekanannya masih akan kita rasakan ke depan. Tapi, kalau melihat bagaimana ketergantungan kita terhadap minyak, sebetulnya kita jauh lebih baik dibandingkan dengan peers lain,” ujar Faisal dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, ketergantungan Filipina terhadap minyak Timur Tengah mencapai sekitar 95 persen, sementara Malaysia mendekati 70 persen. Adapun Indonesia, tingkat ketergantungannya hanya sekitar 20 persen. Rendahnya ketergantungan tersebut, lanjut Faisal, tidak terlepas dari langkah diversifikasi sumber impor energi yang telah dilakukan pemerintah, termasuk menjajaki pasokan dari negara-negara di Afrika.
Dengan kondisi tersebut, Faisal menilai Indonesia memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi potensi tekanan global di sektor energi, khususnya jika terjadi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
“Filipina, dengan kondisi seperti itu, wajar kalau mengumumkan work from home (WFH) dalam tingkat magnitude yang lebih besar daripada kita. Karena memang ketergantungannya sangat tinggi,” ujarnya. Meski demikian, ia mengingatkan tekanan global tetap perlu diantisipasi ke depan. Pemerintah juga dinilai tepat dalam menjaga stabilitas domestik, salah satunya melalui kebijakan mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.
“Karena berdasarkan historis, kalau harga BBM bersubsidi ini mengalami kenaikan, dampaknya cukup besar, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap harga pangan,” jelas Faisal. (kompas*)












