BeritaDaerahEkonomi

Era VUCA, Pelaku Wisata Dituntut Adaptif dan Berkelanjutan

10
×

Era VUCA, Pelaku Wisata Dituntut Adaptif dan Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Praktisi pariwisata, Eko Suseno Matrutty yang menjadi narasumber dalam Bina Pelaku Usaha Pariwisata
Praktisi pariwisata, Eko Suseno Matrutty yang menjadi narasumber dalam Bina Pelaku Usaha Pariwisata

JAGABERITA.ID – Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity) yang terjadi saat ini, butuh adaptasi yang juga cepat dari para pelaku pariwisata. Selain mengantisipasi perubahan yang terjadi bergitu cepat, para pelaku usaha pariwisata ini juga perlu memikirkan daya tarik kolektif agar pariwisata Kota Semarang semakin berkembang.

Hal ini disampaikan praktisi pariwisata, Eko Suseno Matrutty yang menjadi narasumber dalam Bina Pelaku Usaha Pariwisata ‘Transformasi Bisnis pariwisata: Adaptasi, Inovasi dan Kolaborasi di Era VUCA di Semarang, Kamis (12/2/ 2026).

“Kenapa Bali banyak dikunjungi turis asing? Karena mereka memiliki daya tarik kolektif, lengkap dan semuanya saling menunjang,” ujarnya.

Karenanya, industri pariwisata harus dapat melakukan penyesuaian diri dengan cepat dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Saat ini mungkin sudah tidak perlu lagi unique selling propositon namun sudah meningkat menjadi unique valuable propotion. Bukan lagi mengedepankan need namun warmth.

“Contohnya, keramahan di hotel itu sebuah kewajiban bagi industri hospitality, namun pendekatan personal dan empati jauh lebih akan terasa bedanya,”ungkapnya.

Mardi Tri Sutrisno pun menegaskan, bahwa di era VUCA ini, semua industri terutama pariwisata sudah harus mengedepankan keberadaan data. Data ini sangat penting terutama untuk menentukan rencana program ke depan.

“Jadi sudah bukan eranya membikin program berbasis intuisi namun harus berbasis data,” tegasnya.

Kadisbudpar kota Semarang, Indriyasari menggarisbawahi bahwa perubahan perilaku wisatawan yang terjadi saat ini sangat dinamis. Ditunjang dengan fluktuasi pasar, perkembangan teknologi digital yang disruptif serta meningkatnya tuntutan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggungjawab.

“Wisatawan kini tidak hanya mencari tempat namun juga pengalaman, tidak hanya membandingkan harga namun juga kualitas dan tidak hanya mencari hiburan tapi mencari nilai dan makna,” papar Mbak Iin, sapaan akrabnya.

Untuk itulah pihaknya berharap pelaku jasa pariwisata di Kota Semarang mulai melakukan transformasi bisnis yang berkelanjutan.

“Kita memang memasang target kunjungan 8,9 juta wisatawan di tahun 2026 namun kita tidak sekedar membuat pariwisata remai namun pariwisata yang berkelanjutan baik dari sisi ekonomi, sosial dan juga lingkungan,” pungkas Indriyasari. (Yuli)