JAGABERITA.ID – Di tengah sorotan terhadap cuitan Dwi Sasetyaningtyas, awardee LPDP yang menyatakan kebanggaannya atas status kewarganegaraan Inggris sang anak, terselip kisah lain penerima beasiswa yang memilih pulang dan mengabdi di Tanah Air.
Sebut saja Aishah Prastowo merupakan alumni LPDP generasi pertama (PK-6) yang menempuh pendidikan S3 di Oxford University, Inggris, dengan jurusan Engineering Science. Dengan jurusan serta kampus yang prestisius, Aishah justru memilih untuk tetap kembali ke negaranya dan mengabdi. Ia memutuskan untuk membangun sekolah dan akhirnya menjadi guru SMA di Yogyakarta.
Perjalanan tersebut dimuat dalam situs resmi LPDP, yakni lpdp.kemenkeu.go.id pada Selasa (29/4/2025). Lantas, bagaimana cerita Aishah memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mengajar setelah sebelumnya berkuliah di Inggris?
Latar belakang keluarga dan kecintaannya terhadap Fisika Dunia pendidikan sudah akrab dengan Aishah sejak kecil. Ayahnya merupakan dosen fisika di Universitas Gadjah Mada, sedangkan ibunya adalah lulusan kimia dari kampus yang sama. Ketertarikan Aishah pada sains semakin kuat ketika ia sempat ikut sang ayah ke Kanada, yang saat itu tengah menempuh pendidikan doktoral di Queen’s University. Sejak itu, fisika dan cita-cita berkuliah ke luar negeri tumbuh dalam diri Aishah.
Ia kemudian mengambil S1 Teknik Fisika UGM pada 2007, saat usianya baru 16 tahun.
“Menurut saya fisika itu sangat konkret ya, sesuatu yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang bola dilempar, kendaraan melaju. Seperti itu kan lebih mudah dipahami,” Buka Aishah.
Prestasinya di bidang sains juga terlihat sejak dini. Saat masih duduk di bangku SMP, Aishah meraih medali perak Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Pekanbaru pada 2004
Eksplorasi yang mendalam terhadap fisika kemudian mendorongnya mempelajari ilmu tersebut melalui pendekatan lintas disiplin. Aishah pun melanjutkan studi S2 Interdisciplinary Approach to Life Science di Universite Paris Descartes pada 2011 dengan beasiswa dari pemerintah Perancis. Saat itu, usianya baru menginjak 20 tahun.
Muncul keinginan untuk mendaftar LPDP. Selama menempuh pendidikan magister, Aishah diwajibkan menjalani magang penelitian di sejumlah laboratorium. Pengalaman berpindah dari satu laboratorium ke laboratorium lain justru memunculkan keinginan untuk mendalami riset secara lebih serius melalui pendidikan doktoral.
“Karena saya merasa penelitian itu kalau cuma misalnya tiga bulan itu kayak baru nyiapin aja ya, belum benar-benar masuk ke dunia penelitian. Jadi saya memang waktu S2 itu langsung mencari untuk lanjut S3-nya seperti itu,” ungkapnya.
Merasa penelitiannya di jenjang S2 belum tuntas, Aishah pun memutuskan melanjutkan studi ke tingkat tertinggi di usia yang terbilang muda untuk mahasiswa doktoral, bahkan belum genap 30 tahun.
Pada periode tersebut, LPDP baru mulai beroperasi pada 2013. Informasi mengenai Beasiswa LPDP ia peroleh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris. Aishah kemudian mendaftar dan resmi diterima sebagai mahasiswi doktoral di University of Oxford pada 2014, saat usianya menginjak 23 tahun.
Penelitian terkait Mikrofluida Selama menempuh pendidikan doktoral, Aishah menekuni riset di bidang mikrofluida multifase.
Bidang ini berfokus pada teknologi pemrosesan dan pemindahan fluida atau cairan dalam volume yang sangat kecil. Pemanfaatan mikrofluida skala mikro dinilai mampu mengoptimalkan berbagai eksperimen, baik di laboratorium maupun untuk kebutuhan diagnosis di bidang kesehatan. Salah satu contoh penerapannya adalah drug screening untuk mengetahui respons sel terhadap obat-obatan.
Aishah menjelaskan, jika sebelumnya eksperimen membutuhkan banyak tabung reaksi dengan volume cairan besar, teknologi mikrofluida memungkinkan proses tersebut dilakukan melalui droplet dengan volume hanya dalam hitungan nanoliter hingga mikroliter. Riset yang digeluti Aishah memiliki potensi besar dalam menghadirkan efisiensi, khususnya bagi pengembangan teknologi kesehatan.
Ia menyebut penelitiannya relevan untuk diterapkan di Indonesia. “Misalnya untuk membuat alat diagnostik penyakit secara murah dan dapat dilakukan di pelosok yang kurang terjangkau oleh alat laboratorium yang kompleks,” ujarnya.
Sejumlah hasil penelitian Aishah telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Q1 dan dikutip puluhan kali.
Sibuk Mengajar
Setelah lulus doktoral, Aishah mulai disibukan dengan aktivitas mengajar, Aishah juga melangsungkan pernikahan dengan sang kekasih. Dalam fase awal pascawisuda, ia sempat bergabung sebagai tim peneliti dosen sebelum memasuki masa jeda karena kehamilan dan mengurus anak pertamanya. Situasi tersebut bertepatan dengan merebaknya pandemi Covid-19 yang turut memengaruhi arah karier dan bentuk kontribusinya. Pada masa pandemi itulah Aishah justru banyak terlibat dalam berbagai aktivitas pengajaran.
Ia membuka kelas belajar, mengajar academic writing untuk mahasiswa, serta membimbing penelitian dan penulisan ilmiah bagi penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM). Selain itu, Aishah juga menjadi konsultan bagi mahasiswa yang hendak melanjutkan studi ke luar negeri. Keterlibatannya di dunia pendidikan tidak berhenti di situ. Aishah turut mendampingi siswa SMP dan SMA yang mengikuti berbagai lomba penelitian nasional, seperti Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
Interaksi dengan para peserta didik dari berbagai daerah, baik secara daring maupun luring, memperkaya pengalamannya dalam pengajaran dan pendampingan riset. Pengalaman tersebut kemudian membawanya bergabung sebagai guru penelitian di Alta Global School, sebelum akhirnya mendapat tawaran untuk merintis sekolah alternatif pada 2024.
Mendirikan Praxis High School, siapkan siswa menghadapi tantangan AI dan robotika Praxis High School merupakan SMA alternatif berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art) yang berlokasi di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Sekolah ini didirikan pada 2024 dan beroperasi di Desa Bimomartani dengan konsep ruang terbuka yang masih dikelilingi area persawa
“Praxis High School sendiri adalah sekolah setingkat SMA. Sebelumnya kami adalah Praxis Academy, itu semacam IT bootcamp. Jadi visinya itu memang menjembatani antara lulusan kuliah atau dunia akademik dengan dunia kerja,” jelas Aishah.
Transformasi dari bootcamp menjadi sekolah formal tetap membawa visi yang sama, yakni membekali peserta didik tidak hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan profesional.
Aishah menjelaskan, pendekatan tersebut dirancang untuk menjawab tantangan masa depan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh otomatisasi.
“Kemarin mengacu pada penelitian bahwa di masa depan ini nanti dunia kerja akan dipengaruhi banyak hal, terutama otomasi seperti robotika dan AI, itu akan banyak menutup lapangan kerja yang sekarang sudah ada,” ungkap Aishah. (kompas*)












