BeritaDaerahPendidikan

Kasus Keracunan MBG di Tulungagung, Menu MBG Siswa Dievaluasi BGN

11
×

Kasus Keracunan MBG di Tulungagung, Menu MBG Siswa Dievaluasi BGN

Sebarkan artikel ini

JAGABERITA.ID – Adanya dugaan kasus keracunan yang dialami 24 siswa SD Negeri 3 Bungur, Tulungagung, Jawa Timur membuat Badan Gizi Nasional (BGN) langsung mengevaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Koordinator BGN Wilayah Tulungagung, Sebrina Mahardika, mengatakan sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bungur telah diamankan untuk diuji laboratorium oleh Dinas Kesehatan setempat.
“Kami masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan sumber penyebab gejala yang dialami siswa,” ujar Sebrina, Kamis (12/2/2026).

Menu yang disajikan saat kejadian, antara lain nasi putih, ayam suwir, tahu, oseng kacang, dan kurma.

Berdasarkan observasi awal dan keterangan pihak sekolah, lauk ayam suwir diduga menjadi penyebab, karena dalam kondisi berbau dan berlendir saat dikonsumsi siswa.

Namun, BGN menegaskan dugaan tersebut masih menunggu kepastian hasil uji laboratorium.

Sebrina mengungkapkan BGN sebelumnya telah merilis daftar menu yang tidak direkomendasikan dalam program MBG, karena berisiko mengalami penurunan kualitas gizi secara cepat setelah dimasak.

Menu tersebut, di antaranya nasi goreng, nasi kuning, nasi uduk, soto, mi bihun, capcay, sayur taoge, serta ayam suwir.

“Ada beberapa menu yang menjadi atensi BGN agar tidak digunakan karena risiko penurunan kualitas gizinya relatif cepat, sehingga rawan menimbulkan masalah keamanan pangan,” paparnya.

Ia menambahkan dugaan keracunan di SD Negeri 3 Bungur merupakan bagian dari rangkaian kasus serupa yang terjadi di lima sekolah di Tulungagung, yakni SMK Negeri 3 Boyolangu, SMK Sore Tulungagung, SMK Negeri 2 Boyolangu, MAN 2 Tulungagung, dan SD Negeri 3 Bungur.

Sejauh ini, sudah ada empat dapur SPPG dihentikan sementara operasionalnya untuk menjalani pemantauan dan pengawasan langsung oleh BGN.

Keempat dapur tersebut juga belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sehingga diminta melakukan perbaikan sesuai standar keamanan pangan.

“Kasus ini menjadi perhatian serius agar pelaksanaan program MBG benar-benar memenuhi standar keamanan pangan, higiene sanitasi, dan mutu gizi demi keselamatan peserta didik,” pungkas Sebrina.(ANT*)