BeritaPeristiwa

Datangkan Heli Mi-35 dari Rusia, Perkuat Persenjataan TNI AD dan Dukung Operasi Non Perang

3
×

Datangkan Heli Mi-35 dari Rusia, Perkuat Persenjataan TNI AD dan Dukung Operasi Non Perang

Sebarkan artikel ini

JAGABERITA.ID – TNI Angkatan Darat (AD) terus memperkuat kemampuan armada helikopternya untuk mendukung berbagai kebutuhan operasi. Penguatan armada itu salah satunya ditandai dengan kedatangan helikopter serbu Mi-35 M asal Rusia.

Selain helikopter tempur, TNI AD kini memiliki helikopter yang dapat digunakan untuk mengangkut personel hingga membawa beban dalam jumlah besar.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan penambahan alutsista tersebut merupakan bagian dari evaluasi TNI AD terhadap kebutuhan persenjataan.

“Iya, jadi kita kan untuk persenjataan terus kita evaluasi. Itu ada beberapa jenis Mi itu, salah satunya itu sama itu sebenarnya heli tempur. Tapi ada juga heli personel, ada juga heli yang bisa membawa beban,” ujar Maruli, Sabtu (19/902026).

“Kalau ini dibilangnya Kamov tuh kalau dulu di Papua. Jadi selama ini kita ini hanya bisa menyewa heli yang orang luar negeri punya. Sudah berpuluh tahun, ya,” lanjutnya.

Menurut Maruli, salah satu kemampuan yang kini diperkuat adalah helikopter yang dapat mengangkut beban dalam jumlah besar. Secara spesifikasi, helikopter tersebut mampu membawa beban hingga 5 ton.

Namun, kemampuan angkut itu tidak selalu dapat digunakan secara maksimal. Faktor medan dan ketinggian menjadi pertimbangan dalam menentukan beban yang dapat dibawa helikopter.

“Tapi sekarang kita punya heli yang bisa mengangkat beban secara spek itu bisa sampai 5 ton. Tapi kalau ketinggian, mungkin kita amannya 3 ton lah,” ujarnya.

Kemampuan tersebut, kata Maruli, tidak hanya digunakan untuk mendukung kebutuhan internal TNI AD. Helikopter pengangkut beban juga dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang tinggal di wilayah sulit dijangkau, terutama kawasan pegunungan Papua.

“Sehingga ini juga bisa sekalian mendukung personel kita, juga bisa membantu masyarakat. Ya selama ini kita masyarakat yang di pegunungan di Papua ini bantuan-bantuannya sulit, ya. Karena keterbatasan penerbangan,” kata Maruli.

Nanti ke depan ini mungkin operasional bulan 10 ada dua jenis yang bisa, jenis Kamov yang bisa untuk membantu masyarakat,” sambungnya.

Selain kemampuan mengangkut beban dan personel, TNI AD juga tengah mengembangkan fungsi helikopter untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satunya melalui metode water bombing atau pemadaman dari udara dengan menjatuhkan air ke titik kebakaran.

“Kayak kita sekarang sudah mulai water bombing untuk heli-heli kita, dulu tidak pernah dikerjakan. Sekarang kita sudah 7 heli kita, kita segera belajar, disiapkan perlengkapannya oleh, itu sebenarnya dipimpin Presiden langsung,” ujarnya.

Persiapan kemampuan water bombing tersebut membutuhkan waktu hampir satu bulan. Personel harus mempelajari berbagai tahapan, mulai dari mengambil air hingga melakukan penyemprotan dari udara.

“Sekarang kita sudah bisa, mungkin kemarin perlu persiapan sekitar hampir 1 bulan ya. Hampir 1 bulan untuk belajarnya, bagaimana dia ngambil air, bagaimana nyemprot,” kata Maruli.

Maruli juga menyoroti kondisi geografis Indonesia yang menjadi tantangan dalam pengoperasian helikopter. Menurutnya, sejumlah wilayah memiliki medan dan ketinggian yang membutuhkan kemampuan khusus dari pilot maupun kru helikopter.

“Ini juga sama karena tingkat kesulitan di Indonesia ini kan ketinggian-ketinggian itu ketinggian sampai 2.000 lebih di Papua itu, itu memerlukan keahlian yang, yang harus cukup bagus untuk bisa aman ke sana,” kata dia. (kumparan*)